KUALITAS PENDIDIKAN DASAR DI KOTA SERANG, PROVINSI BANTEN

KUALITAS PENDIDIKAN DASAR DI KOTA SERANG, PROVINSI BANTEN
Ratna Saraswati dan M.H.Dewi Susilowati
Departemen Geografi , Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
ratna. saraswati@ui.ac.id / ratnasaraswati@yahoo.co.uk

ABSTRAK
Masalah pendidikan dasar yang dihadapi saat ini antara lain pemerataan pendidikan di seluruh daerah belum tercapai, yang meliputi mutu pendidikan dan fasilitas pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah; mengidentifikasi dan mengevaluasi mutu pendidikan dasar di Kota Serang, kualitas guru dinilai dari jenjang pendidikan dan pengembangan fasilitas penunjang serta kondisi lingkungan sekolah. Variabel yang digunakan untuk analisis mutu pendidikan dasar yaitu: persentase kelulusan pendidikan dasar atau Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN); kualitas guru dinilai dari jenjang pendidikan guru; kondisi lingkungan sekolah; pengembangan fasilitas penunjang meliputi perpustakaan, Laboratorium, UKS, ruang dinas kepala sekolah, ruang dinas guru, ruang dinas penjaga, ruang ibadah; serta variabel yang telah diteliti tahun 2009 meliputi; Angka Partisipasi Kasar (APK), ketersediaan sekolah (jumlah penduduk usia sekolah pada setiap sekolah), rasio murid dan ruang, disebut daya tampung, rasio murid dan guru, disebut ketersediaan guru. Hasil penelitia ini adalah : kondisi lingkungan sekolah dengan melihat letak sekolah, maka sebagian besar terletak di permukiman. Kondisi lingkungan ini tidak berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Jenjang pendidikan dasar guru, sebagian besar jenjang sarjana. Jenjang pendidikan guru ini tidak berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Sarana penunjang yang dimiliki sekolah bervariasi baik jumlah maupun jenisnya. Sarana penunjang untuk SD berkorelasi dengan kualitas pendidikan, sedangkan untuk SMP tidak berkorelasi. Nilai APK, ketersediaan sekolah, daya tampung, maupun ketersediaan guru relatif bervariasi. Jika dihubungkan dengan kualitas pendidikan, variabel tersebut tidak berkorelasi.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang mendasar untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin kemajuan sosial dan ekonomi. Pendidikan juga memainkan peran kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menciptakan, menyerap teknologi modern, dan untuk mengembangkan kapasitas serta menyebarluaskan pengetahuan, agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Disamping itu mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia. Namun akses terhadap pendidikan tidak tersebar secara merata, dan golongan miskin paling sedikit mendapat bagian. Berpijak pada penelitian yang telah dilakukan maka penelitian akan membahas tentang Kualitas Pendidikan Dasar di Kota Serang, agar pengembangan kualitas pendidikan dasar yang dilakukan tepat guna.

METODOLOGI

A. Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data mutu pendidikan dasar, perlu dilakukan pengumpulan data sebagai berikut :persentase angka kelulusan tahun 2009, kondisi lingkungan sekolah, jenjang pendidikan guru dan jumlah sarana penunjang meliputi perpustakaan, laboratorium, usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang ibadah.

B. Pengolahan Data
Mengklasifikasikan data menjadi dua kelompok, yaitu data kuantitatif dan kualitatif; mengubah jenis data/ disesuaikan atau dimodifikasi dengan teknik analisis yang digunakan; Sistem informasi geografis (SIG) digunakan untuk mengolah data spasial dan tabular. Proses yang dilakukan dimulai dari pemasukan data spatial, editing, labeling, anotasi, map joint, overlay, modeling, klasifikasi, pemasukan data atribut sampai pada proses keluaran/output (O’ Sullivan & Unwin,2003). Data kuantitatif diolah dengan program statistik.

C. Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis keruangan (spatial analysis) dan analisis statistik. Korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk menentukan hubungan antara dua gejala interval atau dua gejala rasio atau satu gejala interval dan satu gejala rasio.Rumus yang digunakan adalah

Keterangan:
rxy = koefisien korelasi antara X dan Y
xy = mean deviasi

Langkah-langkah pengujian hipotesis:
1.Menentukan Ho dan Ha
Ho: Tidak ada hubungan antara variabel X dan Y
Ha: Ada hubungan antara variabel X dan Y
2.Menentukan level of significance :
Taraf kepercayaan yang digunakan95%dan tingkat toleransi kesalahan (α) 5% .
3.Kriteria pengujian
a. Berdasarkan perbandingan r hitung dan r tabel
Ho diterima jika r hitung < r tabel
Ho ditolak jika r hitung ≥ r tabel
b.Berdasarkan Probabilitas
Ho diterima jika probabilitas > 0,05
Ho ditolak jika probabilitas ≤ 0,05

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas pendidikan dilihat nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), dapat mengindikasikan tingkat kemajuan pendidikan dasar maupun kesuksesan pelaksanaan program wajib belajar. Hubungan kualitas pendidikan dengan kondisi lingkungan sekolah, jenjang pendidikan guru, sarana penunjang, ketersediaan sekolah, guru, ruang kelas, sangat penting sebagai dasar pertimbangan dalam pengembangan pendidikan.

Kondisi lingkungan sekolah sedikit banyak mempengaruhi suasana belajar siswa, yang akhirnya dapat menentukan kualitas pendidikan yang diindikasikan dengan nilai UAN. Sekolah yang letaknya di wilayah permukiman dimungkinkan mempunyai nilai yang berbeda dengan yang diluar permukiman, seperti perdagangan, pertanian atau lainnya. Ternyata dari hasil penelitian diperoleh bahwa SD yang terletak pada wilayah permukiman tidak semua mempunyai nilai UAN yang tinggi, hanya sebanyak 15,15 % atau 10 kelurahan yang mempunyai nilai UAN di atas 21. Sedangkan 4,55 % atau tiga kelurahan dengan nilai UAN rendah (<18). Hal ini dibuktikan dengan perhitungan statistik bahwa, tidak terdapat hubungan antara kondisi lingkungan dan nilai UAN SD. Begitu pula untuk SMP

Jenjang pendidikan guru diperkirakan dapat memengaruhi kualitas pendidikan. Sekolah yang mempunyai guru dengan jenjang pendidikan lebih tinggi dimungkinkan mempunyai nilai yang berbeda dengan guru yang mempunyai jenjang pendidikan yang rendah. Berdasarkan analisis keruangan dengan overlay peta, terlihat bahwa nilai UAN yang tinggi tidak selalu mempunyai guru dengan pendidikan yang tinggi pula. Sebanyak 4,55 % atau 3 kelurahan, mempunyai nilai UAN di atas 21. Sedangkan 4,55 % dengan nilai UAN berkisar 18 – 21.
Secara teoritis jumlah fasilitas atau sarana penunjang yang lengkap dapat memengaruhi kualitas pendidikan baik, diindikasikan dengan nilai UAN yang tinggi. Namun ternyata tidak semua sekolah yang mempunyai sarana penunjang lengkap dan banyak selalu mempunyai nilai UAN yang tinggi. Berdasarkan overlay peta, SD yang mempunyai jumlah sarana penunjang banyak, dengan nilai UAN yang tinggi, sebanyak 7,58 % atau lima kelurahan, Sedangkan 1,52 % dengan nilai UAN antara 18 – 21. Sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah terdapat hubungan antara sarana penunjang dengan nilai UAN SD, dimana semakin banyak jumlah sarana penunjang, maka semakin besar nilai UAN SD yang diperoleh. Berbeda halnya dengan SMP, tidak terdapat hubungan antara jumlah sarana penunjang dengan nilai UAN SMP.

Penilaian daya serap menggunakan APK, yang merupakan salah satu indikator pendidikan yang digunakan untuk melihat sejauh mana pemerataan pendidikan suatu daerah. Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa nilai UAN yang tinggi tidak selalu APK yang tinggi pula. Beberapa kelurahan yang mempunyai SD dengan APK yang tinggi dengan nilai UAN di atas 21, sebanyak 34,85 % atau atau 23 kelurahan. Sedangkan 36,36 % dengan nilai UAN antara 18 – 21, yaitu meliputi 24 kelurahan. Ketersediaan sekolah dapat dilihat dengan indikator seberapa banyak jumlah penduduk usia sekolah SD (7–12 tahun) dan SMP (13 – 15 tahun) pada setiap sekolah. Semakin tinggi nilai tingkat ketersediaan sekolahnya, maka semakin rendah arti dari ketersediaan sekolah itu sendiri, hal ini terkait dengan beban yang harus ditanggung oleh setiap sekolah untuk melayani penduduk sekitarnya. Sebaliknya jika semakin kecil nilai tingkat ketersediaan sekolahnya, maka dapat diartikan bahwa daerah tersebut mempunyai ketersediaan sekolah yang baik. SD yang mempunyai ketersediaan sekolah yang rendah, tidak selalu mempunyai nilai UAN yang rendah. Kelurahan yang mempunyai SD dengan ketersediaan rendah, dengan nilai UAN di atas 21, sebesar 34,85 %. Sedangkan 7,58 % dengan nilai UAN sekitar <18. Begitu pula untuk SMP

Rasio siswa dengan ruang kelas, adalah indikator yang menggambarkan kondisi kepadatan tiap ruang kelas, dimana semakin tinggi nilai rasio murid tiap ruang kelas, maka kelas tersebut semakin padat. Secara teoritis, jika terlalu padat dalam tiap ruang kelas, maka akan mengurangi kenyamanan dalam belajar, sehingga dapat memengaruhi kualitas pendidikan. Namun dalam kenyataan tidak selalu demikian. SD yang mempunyai rasio murid dan ruang kelas >40, tidak selalu mempunyai nilai UAN yang rendah, sebanyak 6,06 % atau 4 kelurahan. Sedangkan 33,33 % dengan nilai UAN di atas 21, yaitu mencakup 22 kelurahan. Sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak terdapat hubungan antara daya tampung dengan nilai UAN SD. Namun tidak demikian untuk SMP. SMP yang mempunyai rasio murid dan ruang kelas tinggi, tidak selalu mempunyai nilai UAN yang rendah. Kelurahan yang mempunyai SMP dengan rasio tinggi , dengan nilai UAN rendah, sebesar 7,5 % atau tiga kelurahan, sedangkan 5 % dengan nilai UAN tinggi.

Rasio murid dan guru, menunjukkan beban setiap guru dalam mengajar jumlah murid. Secara teoritis, semakin besar beban guru, semakin kurang efektif dalam belajar mengajar, sehingga dapat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. SD yang mempunyai rasio murid dan guru tinggi, tidak selalu mempunyai nilai UAN yang rendah. Kelurahan yang mempunyai SD dengan rasio murid dan guru tinggi , dengan nilai UAN rendah, sebesar 3.03 % % atau dua kelurahan. Sedangkan 3.03 % dengan nilai UAN di atas 21, mencakup dua kelurahan.

KESIMPULAN

Kualitas pendidikan dasar dengan indikasi nilai UAN di Kota Serang bervariasi. Jika dihubungkan dengan kondisi sekolah, jenjang pendidikan, fasilitas atau sarana penunjang, APK, ketersediaan sekolah (jumlah penduduk usia sekolah pada setiap sekolah), rasio murid dan ruang (daya tampung), rasio murid dan guru (ketersediaan guru) dapat disimpulkan bahwa: kondisi lingkungan sekolah dengan melihat letak sekolah, maka sebagian besar terletak di permukiman. Kondisi lingkungan ini tidak berpengaruh terhadap kualitas pendidikan; jenjang pendidikan dasar guru, sebagian besar jenjang sarjana. Jejang pendidikan guru ini tidak berpengaruh terhadap kualitas pendidikan; Sarana penunjang yang dimiliki sekolah bervariasi baik jumlah maupun jenisnya. Sarana penunjang untuk SD berkorelasi dengan kualitas pendidikan, sedangkan untuk SMP tidak berkorelasi; Nilai APK, ketersediaan sekolah, daya tampung, maupun ketersediaan guru relatif bervariasi. Jika dihubungkan dengan kualitas pendidikan, variabel tersebut tidak berkorelasi.

DAFTAR PUSTAKA
Diknas. 2005. Rencana Strategis (RENSTRA) Depdiknas, Depdiknas, Jakarta.
Diknas. 2006. Visi, Misi, Kebijakan,Beberapa Indikator Kinerja Kunci. Jakarta.
Filbeck, R. 1974. System in Teaching and Learning. Lincoln. Professional Educators Publications.
Gagne, R.M, & Briggs L,J. 1979. Principles of Instructional Design. (2nd ed). Holt Rinehart and Winston. New York.
Johnston, R.J, 1978. Multivariate statistical analysis in geography, a primer on the general linier model, Longman Group Lemited, London.
Nagle, G. 2000. Advanced Geography. Oxford University Press, Oxford.
O’Sullivan, D&D.Unwin,2003. Geographic Information Analysis. John Wiley & Sons. Inc.
Thoha,M.C. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

(Peta tidak dapat di tampilkan)

Peta 1. Persebaran Nilai UAN SD/MI Peta 2. Persebaran Nilai UAN SMP/MTS

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv