Dekan FMIPA UI Tekankan Integrasi Ilmu Kebencanaan dan Kearifan Lokal dalam Majelis Nyala Purnama #9

January 7, 2026

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., menegaskan pentingnya penataan ulang relasi manusia dan alam berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dalam Majelis Nyala Purnama #9 yang digelar di Makara Art Center UI, Selasa (06/01/2026).

Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Tito memaparkan kajian akademiknya mengenai dinamika bencana ekologis di Pulau Sumatera, yang menurutnya tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alamiah, melainkan sebagai dampak dari degradasi lingkungan dan paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya berkeadilan ekologis.

“Banjir, banjir bandang, dan longsor yang terus meningkat di Sumatera merupakan manifestasi dari kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), perubahan iklim, serta tata kelola pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan,” ungkap Prof. Tito dalam makalah ilmiahnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Tito menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi akibat kondisi geologis, geografis, dan klimatologis. Namun, selama ini penanganan bencana masih didominasi pendekatan teknokratis dan respons darurat, tanpa menyentuh akar persoalan relasi manusia dengan alam.

Melalui pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis kajian literatur dan studi kasus, ia menunjukkan bahwa budaya dan kearifan lokal memiliki peran strategis sebagai sistem pengetahuan sekaligus mekanisme mitigasi bencana yang telah teruji secara turun-temurun.

“Budaya bukan hanya identitas sosial, tetapi juga modal pengetahuan yang membentuk ketangguhan masyarakat. Integrasi antara ilmu kebencanaan modern dan kearifan lokal adalah kunci membangun sistem kebencanaan yang berkelanjutan dan kontekstual di Indonesia,” jelasnya.

Prof. Tito juga menekankan pentingnya menjadikan DAS sebagai unit analisis utama dalam memahami bencana ekologis, sekaligus mendorong upaya restorasi ekosistem dan kebijakan pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Majelis Nyala Purnama #9 sendiri mengangkat tema “Tahun Baru, Semangat Baru, Wajah Baru: Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam”, diselenggarakan oleh Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan berbagai sesi reflektif mulai dari orasi budaya, paparan akademik, hingga seni pertunjukan.

Selain Prof. Tito, acara ini turut menghadirkan Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, arsitek Yori Antar, pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, serta sejumlah seniman dan musisi. Namun, paparan ilmiah Prof. Tito menjadi salah satu sorotan utama karena menghadirkan perspektif akademik yang menjembatani ilmu pengetahuan, budaya, dan kebijakan lingkungan.

Melalui forum ini, Prof. Tito berharap wacana kebencanaan tidak hanya berhenti pada penanggulangan pascabencana, tetapi bertransformasi menjadi gerakan kolektif untuk membangun relasi manusia dan alam yang lebih harmonis, adil, dan berkelanjutan di masa depan.

Bagikan ini ke:
Berita Lainnya