Rantai Pangan Terancam: Doktor FMIPA UI Ungkap Invasi Mikroplastik di Mangrove Teluk Lampung

January 6, 2026

Depok, 6 Januari 2026 – Mikroplastik kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem mangrove. Partikel plastik berukuran mikro tidak hanya terakumulasi di sedimen, tetapi juga dapat masuk ke tubuh biota mangrove, bahkan berpotensi menembus rantai makanan manusia. Mangrove Teluk Lampung, yang memiliki peran ekologis dan ekonomi penting—sebagai penyaring limbah, penahan abrasi, dan habitat biota—ternyata menjadi titik konsentrasi mikroplastik dari daratan maupun laut.

Menanggapi fakta ini, Berta Putri, mahasiswa Program Studi Doktor Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), melakukan penelitian untuk memahami karakteristik dan distribusi mikroplastik di mangrove tersebut. Hasil penelitiannya dituangkan dalam disertasi berjudul “Karakteristik dan Distribusi Mikroplastik di Kawasan Mangrove Teluk Lampung”, yang dipaparkan dalam sidang terbuka promosi Doktor Biologi FMIPA UI. Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., selaku ketua sidang, pada Selasa (6/1) di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok.

“Penelitian ini menunjukkan alur lengkap dari masuknya mikroplastik ke lingkungan, akumulasi di biota, hingga pengaruhnya terhadap komunitas mikroalga, memberikan gambaran holistik tentang risiko dan dinamika mikroplastik di mangrove Teluk Lampung.” ujar Berta dihadapan dewan penguji.

Berbekal penelitian ini, Berta Putri berhasil meraih gelar Doktor dengan predikat sangat memuaskan di bawah bimbingan Prof. Dr. rer. nat. Drs. Mufti Petala Patria, M.Sc. sebagai promotor, dan Prof. Dr. Ir. Dietriech Geoffrey Bengen, DEA, serta Dr. Riani Widiarti, S.Si., M.Si. sebagai ko-promotor.

Penelitian ini mengungkap fakta mengejutkan: sedimen mangrove mengandung mikroplastik dalam jumlah signifikan, didominasi fiber berwarna hitam dan biru, dengan polimer utama polietilena (PE) dan polipropilena (PP). Partikel terbesar (>1000 μm) banyak ditemukan, menunjukkan sebagian berasal dari aktivitas lokal seperti tekstil, jaring, dan plastik sekali pakai, yang belum terdegradasi. Artinya, mikroplastik ini bisa menumpuk di ekosistem mangrove, masuk ke tubuh hewan, dan berpotensi menembus rantai makanan, sehingga menjadi ancaman bagi biota dan kesehatan manusia.

“Kami juga menemukan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah pencemaran fisik, tetapi dapat mengubah interaksi ekosistem, termasuk komunitas mikroalga yang menjadi dasar rantai makanan mangrove. Temuan ini membuka peluang untuk strategi pengelolaan yang lebih tepat dan berkelanjutan,” kata Berta menjelaskan dampak mikroplastik terhadap ekosistem mangrove dan implikasinya bagi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Mikroplastik juga terdeteksi dalam tubuh Telescopium telescopium dan Geloina erosa, dengan pola berbeda sesuai kebiasaan makan masing-masing. T. telescopium lebih banyak menelan partikel dari sedimen, sedangkan G. erosa menelan dari kolom air. Hal ini menjadikan kedua moluska sebagai bioindikator potensial pencemaran plastik di mangrove.

Selain itu, mikroplastik menjadi substrat baru bagi mikroalga epifit, atau plastisphere. Meskipun jumlah dan keanekaragaman mikroalga lebih rendah dibandingkan di sedimen dan air, komunitas diatom Bacillariophyta tetap dominan, terutama genus Navicula dan Nitzschia. Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah fisik, tetapi juga dapat mengubah struktur komunitas mikroorganisme di ekosistem pesisir.

Penelitian dilakukan pada musim timur (September–Oktober 2022) dan musim barat (Mei–Juni 2023), dengan pengambilan sampel sedimen hingga kedalaman 30 cm dan sampel air melalui plankton net. Hasilnya menunjukkan kelimpahan mikroplastik tertinggi di Stasiun 3 (Kota Karang, 1260 partikel/kg) dan terendah di Stasiun 5 (Pulau Kelagian, 220 partikel/kg). Nilai tertinggi pada biota juga tercatat di Stasiun 3 pada musim timur, menegaskan hubungan antara aktivitas manusia dan kontaminasi mikroplastik.

Temuan ini diharapkan menjadi dasar ilmiah untuk pengelolaan mangrove berkelanjutan, perlindungan keanekaragaman hayati, dan kesehatan masyarakat pesisir.

Bagikan ini ke:
Berita Lainnya
Berita

General Lecture by Prof. Ryota Nagasawa

On March 4th 2020 Prof. Ryota Nagasawa, P.hD from Department of Life and Environmental Agricultural Sciences, Tottori University Japan conducted a guest lecture on Remote Sensing for Geography or Landscape