Sebanyak sebelas mahasiswa Program Studi Magister Fisika Medis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) berhasil meraih beasiswa dari International Atomic Energy Agency (IAEA) dengan total nilai mencapai 440 juta Rupiah. Mereka yang terpilih antara lain Asyifa Khoerunnisa, Fulki Fiarka Djoni, Parinza Ananda, Hany Yuliati, Jenni Natalia Corebima, Hendra Himawan, Rosa Desinta, Abdurrahman Aziz Wicaksono, Aulia Firma, Antonius Fajar Adinegoro, dan Rohma Novitasari.
Beasiswa ini diberikan dalam bentuk pelatihan yang akan dilaksanakan melalui proyek nasional IAEA INS6022 yang berjudul “Expansion Radiation Medicine in Indonesia” Program pelatihan ini berlangsung selama delapan bulan, dimulai pada Februari hingga September 2025, dan diselenggarakan di berbagai pusat kedokteran nuklir di Indonesia.
Dekan FMIPA UI, Prof. Dede Djuhana, Ph.D., menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan upaya transformasi sektor kesehatan yang digagas oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Salah satu aspek utama dari transformasi ini adalah pembangunan infrastruktur pusat onkologi yang tersebar di seluruh provinsi, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan penyakit kanker.
Sebagai respons terhadap kebutuhan ini, FMIPA UI berkomitmen untuk mendukung program tersebut dengan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, khususnya dalam bidang fisika medis. Melalui pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan teknis dan pengetahuan mendalam, FMIPA UI berupaya mencetak fisikawan medik yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga siap berkontribusi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
“Kami menyadari betul bahwa perkembangan teknologi kedokteran nuklir memerlukan tenaga ahli yang berkualitas dan kompeten. Oleh karena itu, melalui program ini, kami berkomitmen untuk menghasilkan sumber daya manusia, terutama fisikawan medik, yang unggul dan siap mendukung pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat,” ujar Prof. Dede.
Senada dengan Dekan, Ketua Program Studi Fisika Medis FMIPA UI, Prof. Supriyanto Ardjo Pawiro, M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya keberadaan fisikawan medik yang handal untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
“Sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk pelayanan ini salah satunya adalah fisikawan medik yang unggul,” kata Prof. Supriyanto.
Setelah menyelesaikan pelatihan ini, lanjut Prof. Supriyanto, para mahasiswa akan dipersiapkan untuk memperoleh kompetensi keterampilan praktik klinis, seperti melakukan kalibrasi peralatan kedokteran nuklir, menghitung dosis radiasi internal pada pasien kedokteran nuklir, menjamin kualitas peralatan kedokteran nuklir, serta memberikan pelayanan proteksi dan keselamatan radiasi dalam kedokteran nuklir.
“Kompetensi ini akan memperkuat kontribusi mereka dalam mendukung perkembangan kedokteran nuklir di Indonesia, yang semakin penting untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Kami yakin, prestasi yang telah dicapai ini adalah awal dari kontribusi besar yang dapat diberikan oleh FMIPA UI dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih merata di seluruh Indonesia,” imbuhnya.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih mendalam, tetapi juga dapat memainkan peran strategis dalam meningkatkan diagnosis dan terapi kanker, serta mendukung pengembangan teknologi medis terkini, guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih efisien, akurat, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Antonius Fajar Adinegoro salah satu mahasiswa penerima beasiswa IAEA, mengungkapkan bahwa beasiswa ini memberikan kesempatan luar biasa bagi mereka untuk mengasah kemampuan dan pengetahuan di bidang fisika medis, khususnya dalam kedokteran nuklir.
“Selain mendapatkan ilmu dari para ahli, kami juga berkesempatan membangun jejaring dengan berbagai rumah sakit mitra di Indonesia, yang memungkinkan kami memahami lebih dalam implementasi kedokteran nuklir di fasilitas kesehatan serta tantangan yang dihadapi dalam penerapannya. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat berkontribusi dalam meningkatkan layanan medis di Indonesia serta memastikan teknologi ini digunakan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Antonius.
Tentang Program Studi Fisika Medis FMIPA UI
Program studi Magister Fisika Medis adalah pengembangan dari peminatan Fisika Medis yang telah dikembangkan selama lebih dari 20 tahun di Departemen Fisika FMIPA UI. Program studi ini bertujuan untuk mencetak Fisikawan Medik yang akan bekerja di fasilitas Kesehatan. Selain memfasilitasi lulusan untuk berpraktek di fasilitas Kesehatan, lulusan dari program studi fisika medis dapat bekerja di indutri alat Kesehatan menjadi spesialis produk di perusahaan alat Kesehatan, pusat penelitian dan pengembangan, regulator di kementerian Kesehatan atau Badan Pengawas Tenaga Nuklir.
Tentang International Atomic Energy Agency (IAEA)
International Atomic Energy Agency (IAEA) merupakan Badan Tenaga Atom Internasional yang berupaya mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai, dan untuk menghambat penggunaannya untuk tujuan militer apa pun, termasuk senjata nuklir. Badan Tenaga Atom Internasional didirikan sebagai organisasi otonom pada 29 Juli 1957. Meskipun didirikan secara independen dari PBB melalui perjanjian internasionalnya sendiri, IAEA Statute, Badan Tenaga Atom Internasional melapor kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB.
Badan Tenaga Atom Internasional berfungsi sebagai forum antar pemerintah untuk kerjasama ilmiah dan teknis dalam penggunaan damai teknologi nuklir dan tenaga nuklir di seluruh dunia. Program-program Badan Tenaga Atom Internasional mendorong pengembangan aplikasi damai energi nuklir, ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan perlindungan internasional terhadap penyalahgunaan teknologi nuklir dan bahan-bahan nuklir, dan mempromosikan keselamatan nuklir (termasuk perlindungan radiasi) dan standar keamanan nuklir dan implementasinya.