Riset Magnetik Superkonduktor oleh Doktor FMIPA UI untuk Teknologi Indonesia

June 30, 2025

Anita Eka Putri, mahasiswi Program Doktor Ilmu Bahan-Bahan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Quantum Size Effect on Magnetic Properties of Parental Compound of Lanthanum Based High-Tc Superconductor Cuprates (La₂CuO₄)” dalam sidang terbuka yang berlangsung pada Senin, 30 Juni, di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok.

Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. rer. nat. Budiawan, Ketua Pelaksana Sidang sekaligus Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FMIPA UI.

Anita dibimbing oleh Dr. Budhy Kurniawan dari Departemen Fisika FMIPA UI sebagai promotor, serta Dr. Isao Watanabe dari Nuclear Structure Research Group, RIKEN Nishina Center, Jepang, sebagai ko-promotor. Berkat kerja keras dan hasil penelitian yang luar biasa, Anita meraih predikat Sangat Memuaskan.

Penelitian Anita mengungkap bagaimana sifat magnetik sebuah material superkonduktor berubah ketika ukurannya diperkecil hingga skala nano, sekitar 43 nanometer. “Material yang menjadi fokus penelitian adalah La₂CuO₄ (LCO), bahan dasar dari superkonduktor suhu tinggi yang memiliki peranan penting dalam teknologi elektronik dan komputer canggih,” jelas Anita.

Hasil risetnya menunjukkan bahwa saat ukuran partikel LCO diperkecil, sifat magnetiknya mengalami perubahan drastis. Misalnya, suhu Néel yaitu suhu di mana material mulai menunjukkan sifat magnet tertentu turun dari sekitar 300 Kelvin (27°C) menjadi sekitar 90 Kelvin (-183°C). Bahkan, partikel yang sangat kecil menunjukkan sifat magnet yang berbeda, yaitu feromagnetik lemah, yang tetap stabil hingga suhu ruang. Temuan ini sangat penting bagi pengembangan teknologi masa depan.

Selain itu, Anita menemukan adanya dua jenis sifat magnetik yang saling bersaing dalam material tersebut, sesuatu yang sebelumnya tidak tampak pada partikel berukuran besar. Untuk mempelajari fenomena ini, ia menggunakan alat-alat canggih seperti SQUID magnetometer dan muon spin relaxation (μSR), yang memungkinkan pengamatan sifat magnetik hingga tingkat atom.

Anita berharap hasil penelitiannya dapat mendorong kemajuan teknologi dalam negeri, khususnya di bidang superkonduktor yang lebih efisien dan hemat energi.

“Saya berharap riset ini dapat membuka jalan bagi pengembangan teknologi superkonduktor yang lebih efisien dan dapat mendorong inovasi di berbagai bidang, seperti elektronik, kendaraan listrik, dan sistem magnetik masa depan,” ujarnya.

Penelitian ini membuka peluang besar untuk inovasi di berbagai sektor teknologi modern, termasuk chip miniatur, sensor pintar, kabel listrik tanpa hambatan, dan sistem magnetik untuk kendaraan masa depan yang lebih canggih dan ramah lingkungan.

Bagikan ini ke:
Berita Lainnya