Peneliti FMIPA UI Berpartisipasi dalam Misi Pelayaran Riset Geologi Laut Internasional
August 27, 2025
Peneliti dari Program Studi Geologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., turut ambil bagian dalam pelayaran ilmiah internasional di wilayah selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ekspedisi tersebut merupakan bagian dari riset kolaboratif antara The Second Institute of Oceanography (SIO), Tiongkok, bersama peneliti dari BRIN, UI, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), serta didukung oleh program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Penelitian selama 16 hari, dari 10 hingga 26 Agustus 2025, dilakukan menggunakan kapal riset R/V Tan Kah Kee milik Xiamen University, Tiongkok. Ekspedisi ini melibatkan 30 peneliti, terdiri dari 23 peneliti Tiongkok dan 7 dari Indonesia. Fokus utama ekspedisi adalah mengeksplorasi zona tumbukan antara Lempeng Benua Australia dan Eurasia yang dikenal aktif secara tektonik, sekaligus mengkaji potensi bahaya geologi seperti gempa bumi dan tsunami, serta keanekaragaman hayati laut dalam.
“Ekspedisi ini menjadi momen penting dalam mendorong kemajuan riset geologi laut Indonesia,” ujar Asri. “Saya merasa beruntung dapat terlibat langsung dalam misi internasional ini dan belajar dari para peneliti Tiongkok maupun Indonesia, terutama terkait metode dan instrumen riset yang sebelumnya hanya saya pelajari lewat literatur.”
Dalam penelitian ini, Asri fokus pada studi distribusi dan perilaku merkuri (Hg) di sedimen dasar laut, terutama di zona palung tropis yang masih minim data. Selama ini, studi tentang logam berat seperti merkuri lebih umum dilakukan di wilayah lintang tinggi dan menengah, seperti Palung Mariana dan Bougainville.
“Penelitian ini mengisi celah pengetahuan di wilayah khatulistiwa, seperti Palung Jawa. Ini penting untuk memahami siklus merkuri di kawasan tropis yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik bawah laut dan arus laut dalam,” jelasnya.
Isu kandungan merkuri di sedimen laut menjadi semakin relevan, mengingat meningkatnya kekhawatiran global terhadap pencemaran logam berat di lingkungan laut. Kandungan tersebut dapat menjadi indikator penting untuk memantau aktivitas geokimia alami maupun pengaruh aktivitas manusia, termasuk dampaknya terhadap rantai makanan laut dan kesehatan manusia.
Selain aspek lingkungan, ekspedisi ini juga berkontribusi penting bagi penguatan sistem mitigasi bencana di Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang berada di zona Cincin Api Pasifik, Indonesia sangat membutuhkan data geologi laut yang akurat. Zona tumbukan lempeng di selatan Sumba diketahui sebagai salah satu wilayah dengan potensi gempa besar dan tsunami.
Selama pelayaran, Asri juga turut terlibat dalam proses pengambilan core sampling, serta mengikuti pelatihan teknis penggunaan berbagai instrumen geofisika laut dalam, seperti Ocean Bottom Seismometer (OBS), Ocean Bottom Electromagnetic Meter (OBEM), dan Controlled-Source Electromagnetic (CSEM). Pengambilan sampel sedimen tersebut dilakukan pada kedalaman 2.000 meter menggunakan metode gravity sediment coring, yang memungkinkan pengambilan material dasar laut secara presisi untuk analisis lebih lanjut. Pelatihan ini memperluas pemahamannya terhadap akuisisi data seismik dan elektromagnetik dari dasar laut.
“Pelatihan ini bukan hanya memperkaya keterampilan teknis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam dinamika kerja riset internasional, mulai dari aspek ilmiah hingga koordinasi birokratis,” katanya.
Seluruh data dikumpulkan melalui metode gravity sediment coring, pengukuran seismik aktif-pasif, serta pemetaan bawah permukaan menggunakan instrumen OBEM dan CSEM. Selanjutnya, sampel sedimen yang diperoleh akan dianalisis menggunakan sejumlah perangkat, termasuk LUMEX Mercury Analyzer, profil thermal desorption, Rock-Eval, dan Elemental Analyzer untuk mengukur parameter kimia dan fisik.
Namun, ekspedisi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Gelombang laut tinggi membuat banyak anggota tim, termasuk Asri, mengalami mabuk laut yang cukup parah.
“Kondisi itu sangat mengganggu proses kerja lapangan, terutama saat pelepasan alat ke dasar laut,” kenangnya.
Asri menekankan pentingnya ekspedisi semacam ini dalam memperkuat ekosistem riset kelautan nasional. Ia juga menyoroti kesenjangan yang masih ada antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang riset geologi laut.
“Ini menjadi pengingat bahwa kita perlu segera mengejar ketertinggalan, baik dari sisi teknologi maupun sumber daya manusia,” ujarnya.
Asri menyampaikan harapannya agar semakin banyak mahasiswa dan peneliti muda Indonesia yang terlibat aktif dalam riset kolaboratif, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia menegaskan pentingnya membangun jejaring dan kerja sama lintas institusi untuk mengungkap berbagai potensi dan misteri yang masih tersembunyi di bidang geologi laut.
“Jangan ragu untuk berkolaborasi dengan lembaga riset seperti BRIN, maupun universitas-universitas lain di dalam dan luar negeri. Dunia geologi laut masih menyimpan banyak misteri yang menanti untuk kita ungkap bersama,” ujarnya.
FMIPA UI kembali berpartisipasi dalam salah satu kegiatan tahunan yang diselenggarakan Universitas Indonesia, yaitu UI Open Days. Kegiatan yang telah dilaksanakan untuk ke delapan kalinya ini berlangsung selama 2 hari,
On March 4th 2020 Prof. Ryota Nagasawa, P.hD from Department of Life and Environmental Agricultural Sciences, Tottori University Japan conducted a guest lecture on Remote Sensing for Geography or Landscape
Dua tim mahasiswa departemen matematika FMIPA UI yang terdiri dari dua orang di masing-masing tim torehkan prestasi dalam kompetisi matematika tingkat nasional, yakni kompetisi Lomba dan Seminar Matematika (LSM) XXVIII