Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan seminar terbuka UI Geoscience Seminar (UIGS) x Starborn Mengajar 2025 pada Senin (19/5) siang, bertempat di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok. Seminar ini mengusung tema “Geoscience in Oil and Gas Industry” dan menghadirkan Muhajir, Senior Geoscientist dari Pertamina Hulu Energi, sebagai pembicara utama.
Kegiatan ini berhasil menarik antusiasme puluhan mahasiswa dan dosen yang hadir untuk mendapatkan wawasan langsung dari praktisi senior di lapangan. Dibuka oleh Agus Riyanto, M.T., dosen Program Studi (Prodi) Geofisika FMIPA UI yang juga bertindak sebagai moderator, seminar ini menjadi ruang interaksi antara dunia akademik dan profesional.
“Seminar ini penting untuk membuka wawasan mahasiswa bahwa geosains bukan hanya tentang batuan, tapi tentang bagaimana kita menjaga bumi dan membangun masa depan energi yang berkelanjutan,” tutup Agus Riyanto.
Dalam presentasinya, Muhajir menegaskan bahwa peran geosaintis sangat strategis dan multidimensi dalam industri migas. Geosaintis tidak hanya bertugas mencari dan mengevaluasi cadangan minyak dan gas, tetapi juga menjadi pengambil keputusan ilmiah dalam seluruh rantai nilai industri energi.
“Geosaintis adalah jantung dari eksplorasi dan produksi. Mereka memodelkan bawah permukaan bumi menggunakan data seismik, geologi, dan geofisika untuk mengidentifikasi potensi reservoir. Tanpa akurasi data dan interpretasi yang tepat dari geosaintis, risiko eksplorasi bisa sangat tinggi dan merugikan perusahaan,” papar Muhajir.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bagaimana peran geosaintis kini semakin berkembang seiring kemajuan teknologi dan tuntutan global terhadap keberlanjutan. Geosaintis saat ini juga terlibat dalam studi karbon capture and storage (CCS), pengelolaan air tanah, serta pemetaan zona risiko geologi yang penting dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
“Dalam konteks transisi energi, geosaintis punya peran penting dalam pengembangan geothermal, hingga mitigasi dampak lingkungan dari aktivitas industri,” tambahnya.
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis, di mana para peserta aktif bertanya seputar peluang kerja, tantangan eksplorasi di wilayah-wilayah frontier, serta bagaimana mahasiswa dapat mempersiapkan diri menghadapi perkembangan industri yang kian kompleks.
Muhajir menekankan pentingnya penguasaan data digital, kemampuan analisis spasial, serta kolaborasi multidisipliner sebagai kunci sukses geosaintis masa kini. “Tidak cukup hanya paham teori, geosaintis harus adaptif terhadap teknologi seperti machine learning, artificial intelligence, dan integrasi data multidomain,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia UIGS x Starborn Mengajar menyerahkan plakat penghargaan kepada Muhajir atas kontribusinya dalam membagikan ilmu dan pengalaman.
Melalui seminar ini, Departemen Geosains FMIPA UI berharap dapat membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya peran geosaintis dalam menyokong ketahanan energi nasional. Kegiatan ini juga menjadi ajang inspiratif bagi generasi muda untuk melihat geosains sebagai bidang yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga strategis dalam pembangunan bangsa.