Bentang perbukitan hijau, gemericik air terjun, dan jejak budaya lokal menjadi bagian dari lanskap keseharian Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Potensi alam dan budaya tersebut kini mulai dipetakan secara lebih terarah melalui pendampingan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) dalam program Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini diinisiasi oleh Departemen Geografi dengan dukungan pendanaan skema hibah kompetisi dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI.
Sejak Juli hingga Desember 2025, tim Pengmas UI yang dipimpin oleh dosen Departemen Geografi FMIPA UI, Dr. Tjiong Giok Pin, S.Si., M.Si. tersebut hadir mendampingi warga Desa Cicareuh untuk mengembangkan ekowisata alam dan budaya berbasis pemetaan geospasial. Program ini tidak sekadar memetakan ruang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan potensi desanya sendiri melalui pendekatan ilmiah yang aplikatif.
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas fakultas, di antaranya Dr. Fuad Gani, S.S., M.A. dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI. Sejumlah mahasiswa Program Sarjana Geografi FMIPA UI, Ira Maya Puspita dan Raisya Khoiri S.A., serta alumni Program Magister FIB UI Abi Rafdi Ramadhan, M.Hum turut terlibat sebagai anggota tim. Kolaborasi ini menjadi wujud kontribusi tim Pengmas UI dalam menerapkan keilmuan geografi dan teknologi spasial untuk mendukung pembangunan masyarakat berbasis data.
Sebanyak 40 peserta terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari perangkat desa, anggota PKK, Karang Taruna, kelompok tani, hingga warga umum yang antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Kehadiran mereka membuat proses pembelajaran lebih dinamis dan partisipatif, di mana masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga berperan aktif dalam pemetaan potensi wisata dan diskusi pengembangan desa.
Selama ini, potensi alam Desa Cicareuh belum terkelola secara optimal. Keterbatasan pemetaan kawasan wisata, minimnya pemanfaatan teknologi geospasial, serta rendahnya literasi digital menjadi tantangan utama. Menjawab hal tersebut, tim Pengmas UI memperkenalkan pemetaan berbasis data citra satelit dan Digital Elevation Model (DEM) sebagai fondasi perencanaan ekowisata yang lebih berkelanjutan.
“Pendekatan berbasis data dan partisipasi masyarakat menjadi kunci. Melalui pemetaan geospasial, masyarakat dapat mengenali potensi desanya secara lebih utuh dan merencanakan pengelolaannya dengan arah yang jelas,” ujar Dr. Tjiong Giok Pin.

Selain pemetaan, penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi fokus utama. Kegiatan diawali dengan sesi pembekalan mengenai potensi ekowisata lanskap perbukitan yang dipaparkan oleh Dr. Tjiong Giok Pin. Sementara itu, Dr. Fuad S.S., M.A. Gani menyoroti pentingnya literasi digital berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung promosi dan pengelolaan wisata desa.
“Literasi digital memungkinkan masyarakat desa tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga menjadi pengelola narasi, identitas, dan promosi desanya sendiri,” jelas Dr. Fuad.
Materi pembekalan dilengkapi dengan penguatan kepemimpinan masyarakat oleh Guru Besar Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI Prof. Dr. Roy Darmawan, SE., M.Si., yang mendorong tumbuhnya kolaborasi dan kerja kolektif dalam pembangunan desa wisata.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dalam Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh peserta, termasuk perangkat desa, PKK, Karang Taruna, dan kelompok tani. Diskusi berlangsung dinamis dan menghasilkan kesepakatan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) sebagai motor penggerak pengelolaan wisata desa. Dusun Bitung ditetapkan sebagai lokasi awal pengembangan ekowisata karena dinilai memiliki kesiapan potensi alam paling menonjol.
Kepala Desa Cicareuh, Ramdan Rustarmono, S.Pd. menyambut baik pendampingan yang dilakukan oleh tim Pengmas UI. Ia menegaskan komitmen desa untuk menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan wisata.
“Kami ingin masyarakat terlibat langsung dan mandiri. Dengan pendampingan dari tim Pengmas UI, kami optimistis potensi alam dan budaya Desa Cicareuh dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam setiap tahapan kegiatan, tim juga menekankan penerapan prinsip 3K—Kebersihan, Keindahan, dan Keberlanjutan—agar pengembangan wisata tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Ke depan, program ini menargetkan luaran berupa peta potensi ekowisata berbasis bukti, prototipe jalur wisata, serta media promosi digital yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Inisiatif ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8, khususnya pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya lokal.
Melalui kolaborasi antara tim Pengmas UI, pemerintah desa, dan sejumlahwarga yang aktif terlibat, Desa Cicareuh diharapkan tumbuh sebagai desa ekowisata berbasis data geospasial—contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat hadir dan berdampak langsung bagi pembangunan masyarakat.


