FMIPA UI Gelar Roadshow “Shell of Hope” di Kepulauan Seribu, Dorong Edukasi Pelestarian Laut Sejak Dini
October 8, 2025
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan laut yang melimpah, namun juga menghadapi tantangan serius dalam menjaga kelestarian ekosistemnya. Upaya edukasi sejak dini dinilai menjadi langkah strategis untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian lingkungan laut.
Merespons kebutuhan tersebut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Departemen Biologi bersama SustainaBlue UI menggelar program edukasi lingkungan bertajuk Roadshow Shell of Hope. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 18–19 September 2025, di SD Negeri 01 Pagi dan SMP Negeri 260 Jakarta yang berlokasi di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu.
Sebanyak 540 siswa tingkat SD dan SMP serta 40 guru turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Selain itu, kegiatan juga melibatkan warga setempat, relawan, dan tokoh masyarakat. Program ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya ekosistem laut kepada siswa melalui pendekatan yang edukatif sekaligus menyenangkan.
Roadshow ini menggunakan metode pembelajaran yang interaktif seperti cerita edukatif, permainan peran, dan kuis berhadiah untuk memperkenalkan berbagai komponen ekosistem laut, mulai dari terumbu karang hingga biota laut mikro yang sering kali terabaikan. Pendekatan ini dirancang agar materi lingkungan hidup dapat dipahami dengan mudah dan menarik bagi anak-anak.
Ketua kegiatan, Dr. Windri Handayani, S.Si., M.Si., menekankan pentingnya edukasi kelautan bagi generasi muda yang tinggal di wilayah pesisir. “Banyak anak-anak di sini yang sejak kecil sudah terlibat dalam aktivitas melaut atau pariwisata bahari bersama orang tua mereka. Ini adalah potensi yang besar, tetapi juga perlu diimbangi dengan pemahaman tentang keberlanjutan agar mereka tidak hanya memanfaatkan laut, tetapi juga menjaganya,” ujarnya.
Sementara itu, anggota tim Dr. Ratna Yuniati, M.Si., menyampaikan bahwa kedekatan geografis dengan laut belum tentu sejalan dengan pemahaman ekologis. “Anak-anak di pulau memang tumbuh dekat dengan laut, namun belum tentu memahami pentingnya menjaga ekosistem di dalamnya. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka wawasan mereka agar muncul rasa peduli terhadap laut sebagai bagian dari kehidupan mereka,” katanya.
Roadshow ini juga turut melibatkan sejumlah dosen dari Departemen Biologi FMIPA UI, antara lain Dr. Retno Lestari, M.Si., Dr. rer. nat. Yasman, S.Si., M.Sc., serta Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc. Sementara dari unsur mahasiswa, tim pelaksana terdiri atas Samuel Young Hadi, Shally Helena Hotmauli, Yolanda Rosida Butarbutar, Gracia Adelia Nababan, Najwa Cahya Meiliza, Jingga Malda Fitri, dan Frisya Farellia.
Mereka berperan aktif dalam menyusun materi edukatif serta mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Selain itu, alumni FMIPA UI yang tergabung dalam tim SustainaBlue, seperti Achmad Eka Satria, Amelia Said, Siwi Dwi Hastuti, Ratu Nida Hamidah, dan Hedza Fadli Robbina, juga berkontribusi dalam memberikan dukungan teknis dan motivasi.
Kegiatan ini turut dimeriahkan oleh kehadiran Abang None Kepulauan Seribu yang hadir untuk memberikan semangat dan mendorong siswa agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mereka.
Salsya, siswa kelas 6 SD Negeri 01 Pagi, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. “Kami belajar banyak tentang laut sambil bermain. Seru dan menyenangkan,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Umairoh, guru SMP Negeri 260 Jakarta. Ia menilai kegiatan seperti ini penting untuk memperluas wawasan siswa. “Kami berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah Kepulauan Seribu,” tuturnya.
Roadshow Shell of Hope mendapat dukungan dari Direktorat Pengabdian dan Inovasi Sosial (DPIS) UI dan menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong upaya pelestarian lingkungan laut secara berkelanjutan.
Di punggung perbukitan Cianjur, Jawa Barat, Gunung Padang berdiri senyap namun terus mengundang tanya. Situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara ini seolah menyimpan cerita yang belum selesai dituturkan. Selama lebih
Dusun Klepo, Kabupaten Kulon Progo, dikenal sebagai wilayah berbukit dengan risiko longsor tinggi, terutama saat musim hujan. Menyadari pentingnya kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana, mahasiswa Program Studi Geologi dan Geofisika
Bentang perbukitan hijau, gemericik air terjun, dan jejak budaya lokal menjadi bagian dari lanskap keseharian Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Potensi alam dan budaya tersebut kini mulai dipetakan secara