Berkat Inovasi Mitigasi Tsunami Berbasis Budaya, FMIPA UI Raih Penghargaan Internasional

August 6, 2025

Tim mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang menamakan diri Terrascientia berhasil mengembangkan SmongNet, sebuah platform berbasis web yang memadukan pendekatan ilmiah dengan kearifan lokal dalam mitigasi bencana tsunami.

Platform ini mengintegrasikan data geospasial, algoritma pemodelan tsunami, dan rekayasa perangkat lunak untuk memvisualisasikan skenario genangan tsunami secara real-time dan interaktif. Berbekal fondasi saintifik yang kuat, SmongNet juga mengedepankan pendekatan sosial-budaya untuk meningkatkan efektivitas edukasi kebencanaan di masyarakat.

“SmongNet kami bangun di atas landasan ilmiah, mulai dari pemodelan numerik hingga simulasi skenario bencana yang kompleks. Namun, pendekatan ini juga kami lengkapi dengan konteks sosial-budaya agar lebih membumi dan berdampak,” ujar Muhammad Ryandi Adhi Saputro, Ketua Tim Terrascientia.

Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan metode pemodelan berbasis grid untuk memperkirakan sebaran genangan tsunami pada berbagai kondisi elevasi dan morfologi pesisir. Data topografi dan batimetri digunakan untuk menyusun simulasi yang akurat, memungkinkan prediksi area terdampak secara cepat dan presisi tinggi.

Tim Terrascientia terdiri dari enam mahasiswa Prodi Geofisika FMIPA UI: Muhammad Ryandi Adhi Saputro, Dennis Oktavianus Christiawan, Haruna Marsa, Muhammad Rizki Setiawan, Said Syach Fahlevi Rabbani, dan Muhammad Luthfan Kautsar. Mereka turut menggandeng Tsaniya Hurin Karima, mahasiswa Prodi Antropologi Sosial FISIP UI, untuk merancang strategi komunikasi risiko dan edukasi publik berbasis nilai-nilai budaya masyarakat Simeulue, Aceh, yang dikenal dengan filosofi “Smong”.

“Filosofi Smong terbukti menyelamatkan ribuan jiwa saat tsunami 2004. Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan kultural, kami berharap SmongNet tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga efektif dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat,” tambah Ryandi.

SmongNet dikembangkan sejak awal 2025 dengan bimbingan dua dosen Prodi Geofisika FMIPA UI, Dr. Eng. Supriyanto, M.Sc. dan Sukarno, M.Si. Inovasi ini menggunakan teknologi pemrograman web untuk memastikan akses luas dan mendukung sistem peringatan dini serta edukasi kebencanaan yang interaktif.

Atas inovasi ini, Terrascientia meraih Silver Medal dalam ajang internasional Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2025 yang digelar di Tokyo pada 5–6 Juli 2025. Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan oleh World Invention Intellectual Property Associations (WIIPA) bekerja sama dengan IIDEX Jepang, dan diikuti oleh 366 tim dari berbagai negara termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Kanada, dan Amerika Serikat.

Dekan FMIPA UI, Prof. Dede Djuhana, Ph.D., mengapresiasi pencapaian tim Terrascientia dan menyebut inovasi tersebut sebagai bukti kontribusi nyata mahasiswa dalam memadukan keunggulan sains dan nilai-nilai sosial.

“SmongNet membuktikan bahwa sains tidak berdiri sendiri. Ia harus menyatu dengan masyarakat dan budaya agar dapat menghasilkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ke depan, tim Terrascientia menargetkan pengembangan SmongNet ke wilayah-wilayah rawan tsunami lainnya di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Mereka juga membuka peluang kolaborasi lanjutan guna meningkatkan ketepatan prediksi dan skalabilitas sistem.

Bagikan ini ke:
Berita Lainnya
Berita

General Lecture by Prof. Ryota Nagasawa

On March 4th 2020 Prof. Ryota Nagasawa, P.hD from Department of Life and Environmental Agricultural Sciences, Tottori University Japan conducted a guest lecture on Remote Sensing for Geography or Landscape