Belajar Geologi Jadi Seru: FMIPA UI Ajak Anak-Anak Menguak Rahasia Batu dan Fosil

May 23, 2025

Ada pemandangan tak biasa di Gedung A Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu, 10 Mei 2025 pagi. Bukan mahasiswa yang lalu lalang seperti biasanya, melainkan 20 anak usia 4 hingga 8 tahun dari Hayya Playspace yang memenuhi lorong-lorong Departemen Geosains dengan penuh tawa ceria. Mereka datang bukan sekadar berkunjung, tetapi untuk menjalani petualangan ilmiah bertajuk “Young Geologist: Secret of The Stones”, sebuah program field trip yang memperkenalkan anak-anak pada rahasia batuan dan fosil yang menyimpan jejak sejarah Bumi.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Program Studi Geologi FMIPA UI dalam menumbuhkan kecintaan terhadap sains sejak dini,” kata Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., dosen Prodi Geologi FMIPA UI. Pada kegaitan ini Asri dibantu oleh tim mahasiswa di Prodinya.

Bersama Asri dan tim, anak-anak Hayya Playspace diajak menyelami berbagai fenomena kebumian melalui enam pos pembelajaran interaktif.

Rahasia yang coba diungkap dalam kegiatan ini, bukan sekadar tentang mengenal jenis batuan atau melihat bentuk fosil, tetapi tentang bagaimana setiap batu dan fosil menyimpan cerita perjalanan alam mulai dari pembentukan pegunungan, aktivitas vulkanik, hingga evolusi kehidupan purba.

Di Pos Geologi Dasar, anak-anak diperkenalkan pada struktur bumi yang kompleks, dari kerak hingga inti. Mereka belajar bahwa bentuk-bentuk patahan dan lipatan batuan bukan sekadar gejala alam, tetapi “rekaman” peristiwa geologis masa lalu.

Petualangan berlanjut ke Pos Mineral, tempat anak-anak menyentuh dan membandingkan mineral dengan kilap dan warna berbeda, membuka pemahaman awal bahwa batuan bukan benda mati biasa, tetapi tersusun dari elemen-elemen unik dengan karakteristik khas.

Di Pos Ukuran Butir, mereka diajak menjadi detektif geologi dengan mengurutkan sedimen berdasarkan ukuran, memahami bagaimana batuan berubah bentuk selama perjalanan panjang dari pegunungan ke pantai. Di sinilah mereka memahami bahwa bentuk dan ukuran butir batuan menyimpan jejak perjalanannya di alam.

Kemudian, di Pos Batuan, anak-anak menggunakan lup untuk mengamati tekstur batuan dan belajar membedakan batuan beku, sedimen, dan metamorf menyingkap bagaimana tekanan, suhu, dan waktu membentuk batuan yang berbeda.

Salah satu momen paling memukau terjadi di Pos Fosil. Di sinilah anak-anak diajak melompat jauh ke masa lalu. Mereka melihat bahwa fosil bukan sekadar cetakan tulang atau daun, tapi jejak kehidupan purba yang membatu bukti bahwa Bumi pernah dihuni makhluk berbeda dari hari ini.

“Dengan mewarnai gambar fosil, anak-anak diajak untuk membayangkan warna-warna kehidupan yang mungkin pernah ada jutaan tahun lalu,” ujar Asri.

Akhirnya, di Pos Mineralogi Optik, mikroskop membuka dunia baru. Anak-anak terpukau melihat struktur kristal dalam batuan yang tak terlihat secara langsung oleh mata. Di sinilah mereka menyadari bahwa batuan, meski tampak keras dan sederhana, menyimpan dunia kecil yang indah dan rumit.

Menurut Hanny Fauziah dari Hayya Playspace, yang juga orang tua salah satu peserta, kegiatan ini sangat efektif dalam menjembatani ilmu geologi dengan cara belajar anak. “Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, menunjukkan dedikasi tim pengajar. Semoga kegiatan serupa terus berlanjut,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa ilmu kebumian bukan hanya bisa dikenalkan sejak dini, tetapi juga bisa dikemas secara menyenangkan dan membekas. Melalui pengalaman langsung, anak-anak tidak hanya mengenal batu dan fosil, tetapi juga memahami cerita besar di baliknya tentang bumi yang terus berubah, dan kehidupan yang terus berkembang.

Bagikan ini ke:
Berita Lainnya
Berita

General Lecture by Prof. Ryota Nagasawa

On March 4th 2020 Prof. Ryota Nagasawa, P.hD from Department of Life and Environmental Agricultural Sciences, Tottori University Japan conducted a guest lecture on Remote Sensing for Geography or Landscape