Dalam upaya memperluas wawasan publik mengenai keanekaragaman tumbuhan di kawasan urban, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), melalui Departemen Biologi dan Herbarium Depokensis (UIDEP), menyelenggarakan pemaparan ilmiah yang disampaikan oleh Afiatry Putrika, M.Si., dosen sekaligus peneliti di bidang botani, khususnya kelompok tumbuhan lumut (Bryophyta).
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk webinar bertajuk “Mengenal Lumut Urban dari Kawasan Ruang Terbuka Hijau Universitas Indonesia”, yang berlangsung pada Sabtu (27/7).
Tumbuhan lumut sering kali terabaikan, bahkan keliru dipersepsikan sebagai alga berlendir yang menyebabkan permukaan licin. Padahal, secara ilmiah, lumut merupakan kelompok tumbuhan nonvaskuler yang memiliki peran ekologi vital di berbagai ekosistem, termasuk wilayah perkotaan seperti kampus UI di Depok.
“Lumut bukan sekadar tumbuhan kecil yang tumbuh di tempat lembap, mereka adalah penjaga ekosistem urban yang sering luput dari perhatian,” tutur Afiatry mengawali paparannya.
Afiatry memaparkan bahwa lumut memiliki struktur tubuh yang sangat sederhana. Tanpa jaringan pembuluh seperti xilem dan floem, lumut menyerap air dan nutrisi langsung dari permukaan tubuhnya, sebuah adaptasi penting yang menjadikan mereka mampu bertahan di lingkungan lembap hingga semi-kering.
Secara taksonomis, lumut telah lama menjadi topik kompleks dalam botani sistematika. Awalnya digolongkan dalam satu divisi besar Bryophyta, kelompok ini kini terbagi menjadi tiga divisi berdasarkan garis evolusi yang terpisah: Bryophyta (lumut sejati), Marchantiophyta (lumut hati), dan Anthocerotophyta (lumut tanduk). Ketiga divisi ini memiliki karakter diagnostik tersendiri, baik dari segi morfologi maupun fisiologi.
Kawasan kampus UI sendiri merupakan rumah bagi beragam spesies lumut yang mencerminkan tingginya biodiversitas flora urban. Lumut sejati di kawasan ini tersebar dalam delapan famili, di antaranya Calymperaceae dan Hypnaceae, yang umum ditemukan tumbuh pada batuan dan permukaan keras. Sedangkan lumut hati seperti dari famili Lejeuneaceae kerap dijumpai di batang pohon, sedangkan Marchantiaceae sering dijumpai pada permukaan tembok dan dinding selokan kampus.
“Lumut bukan kelompok yang sederhana secara ilmiah, mereka terbagi ke dalam tiga divisi yang berbeda secara evolusioner dan morfologis. Menariknya, ketiga kelompok ini dapat kita temukan di lingkungan kampus UI, menunjukkan bahwa bahkan ruang urban memiliki kekayaan flora yang luar biasa.” imbuhnya.

Lebih dari sekadar keragaman jenis, lumut memainkan berbagai fungsi ekologis di lingkungan urban: Sebagai tumbuhan pionir dalam proses suksesi ekologis, Menstabilkan tanah dan mencegah erosi, Meningkatkan kelembapan tanah, serta Berperan sebagai bioindikator kualitas udara melalui perhitungan Indeks Kemurnian Udara (IAP).
Studi biomonitoring yang dipaparkan menunjukkan bahwa nilai IAP di wilayah pemukiman dan kawasan industri sekitar Depok mencerminkan tingkat polusi yang tinggi hingga sangat tinggi, mempertegas pentingnya keberadaan lumut sebagai sistem peringatan biologis.
Selain manfaat ekologis, lumut juga memiliki nilai ekonomis dan estetis dalam dunia hortikultura dan desain lanskap. Inovasi-inovasi seperti biofilter lumut urban yang dikembangkan oleh perusahaan Jerman Green City Solution, serta praktik seni seperti Kokedama dan Preserved Moss Art, menunjukkan potensi besar tumbuhan ini di bidang bioprospeksi dan seni ekologis modern.
Melalui paparan ilmiah ini, Afiatry menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap tumbuhan kecil ini: dari yang semula dianggap remeh atau bahkan menjijikkan, menjadi makhluk hidup penting yang mendukung keseimbangan ekosistem urban dan membuka peluang penelitian lebih lanjut di bidang botani, ekologi, dan bioinspirasi.
“Dengan mengenali dan memahami perannya, kita bisa melihat betapa pentingnya kehadiran mereka dalam menjaga kualitas lingkungan hidup di kota,” kata Afiatry menutup presentasinya.
Herbarium Depokensis (UIDEP), sebagai lembaga konservasi dan riset tumbuhan di Universitas Indonesia, terus berkomitmen dalam memperluas akses literasi sains botani kepada masyarakat luas. Paparan ini menjadi bagian dari misi tersebut, sekaligus ajakan untuk melihat lebih dekat keanekaragaman hayati yang ada tepat di sekitar kita.


