Yearly Archives:

  •         Dr. Ir. MB. Wibowo MS., Bersama…

    29 Dec
    29 Dec
  •   KEPADA YANG TERHORMAT BENI HERMAWAN, SSi., MSi. Civitas academica…

    21 Oct
    21 Oct
  • 12 Oct
    12 Oct
  • Kuliah Umum Dra. Titiek Suparwati (Sekretaris Utama BIG) di Departemen Geografi FMIPA-UI 

    Kampus UI Depok, 16 September 2016

    Dalam penyampaian kuliah umumnya Bu Titik (panggilan akrab Titiek Suparwati oleh kolega di BIG) mengatakan: Kuliah di Geografi FMIPA UI membawa beliau berkarier di Bakosurtanal setelah Lulus dan meniti jenjang karier hingga menjadi pejabat eselon I. Belajar di geografi mendapatkan pengetahuan: teknik, perundangan, human geography dan fisikal geografi sekaligus, dengan pengetahuan ini sebagai bekal berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah yang ada di Indonesia.

    Titiek suparwati2

    Bu Titiek (tengah) kuliah lapang, ketiga menjadi mahasiswa FMIPA-UI.

    Bakosurtanal berubah menjadi BIG, dan sekarang BIG berperan bersama BAPENAS, hal ini menunjukkan pentingnya pengetahuan dan pengelaman yang berharga untuk Geografi. Dan hal ini berarti Geografi dapat bekerja melalui lintas disiplin maupun multidisiplin, dengan wawasan logis, sistematis dan holistik disertai bekerja keras geografi dapat berperan di semua bidang pembangunan dan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan pembangunan dengan sudut pandang keruangan.
    BIG sebagai lembaga nasional sangat memerlukan dukungan aktif dari berbagai civitas geografi Perguruan Tinggi di Indonesia. Beliau sangat terbuka untuk di ajak ‘Mampir – Ngobrol’ mendiskusikan peran geografi dalam pembangunan untuk alumni dan komunitas geografi.
    Pada kesempatan kuliah umum di Geografi FMIPA-UI 16 September 2016 yang sekaligus merayakan hari ulang tahunnya beliau menyampaikan bahwa dalam waktu dekat target BIG akan membuat gazetir nasional yang memerlukan banyak tenaga ahli, harapan beliau perlu ada sekolah/lembaga/PT yang mempersiapkan tenaga ahli tersebut dan sudah tentu basis ilmunya lebih baik geografi.
    Perencanaan Wilayah memerlukan peta rupa bumi, sementara peta rupa bumi yang ada belum sepenuhnya detail toponiminya, jangan menunggu “Punahnya Toponimi”, pembuatan peta rupabumi dari skala kecil hingga besar selayaknya diiringi dengan toponimi yang selengkap-lengkapnya, mengingat saksi-saksi sejarah toponimi di setiap daerah di Indonesia semakin langka. Ini adalah fakta sejarah terkait dengan toponimi yang memiliki nilai sejarah strategis di peta rupabumi yang dihasilkan BIG, lanjut beliau “Dengan target tahun 2020 peta rupabumi Indonesia sudah lengkap toponiminya dari berbagai skala”. Tugas utama BIG membuat peta dasar berupa peta rupa bumi dari berbagai skala utnuk seluruh wilayah Indonesia merupakan tugas yang sangat besar dan membutuhkan banyak tenaga ahli, aik tenaga ahli survey, tenaga ahli teknis kartografi maupun tenaga ahli terkait lainnya. Indonesia yang panjang wilayahnya kurang lebih sama dengan panjang wilayah Eropa maupun Amerika serikat (Barat-Timur) dan merupakan wilayah kepulauan selama 71 tahun Indonesia merdeka belum lengkap dari berbagai skala dan masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan tugas besar tersebut.

    indousa

    Perbandingan luas wilayah Indonesia dan USA

    Keberadaan peta dasar dari mulai skala 1:25.000, 1:50.000, 1:100.000 dan sekala ikhtisar menjadi kebutuhan dasar seluruh sektor pembangunan. Dan jika lambat untuk melengkapi dari berbagai skala tersebut maka pembangunan yang dilaksanakan juga mengalami kendala. Dengan keberadaan peta dasar dijital oleh BIG memberikan peluang kepada sektor-sektor pembangunan untuk melakukan perencanaan dengan acuan yang sama “one map one policy” dengan memproduksi peta-peta tematik yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan sektornya, tidak seperti saat ini, kondisi peta rupa bumi dalam skala besar masih terbatas pulau Jawa yang paling lengkap, untuk luar pulau Jawa acuan pembangunan wilayah masih menggunakan peta-peta dasar skala kecil. BIG bekerja keras untuk mewujudkannya dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya tenaga survey, tenaga teknis terlatih dan bersertifikat.
    Bagaimana terkait dengan menjadi tenaga ahli toponimi, persyaratan dasar memiliki wawasan geografis, pengetahuan teknis survey toponimi (wawancara nara sumber yang representatif di geomer, analisis bukti-bukti tertulis, maupun telaah tradisi Lisan), selain itu pemahaman terkait fisik geografi (baik di daratan, perairan) dan teknis kartografis untuk mendukung visualisasi pada peta rupabumi.
    NKRI sangatlah luas wilayahnya, NKRI sangat bervariasi bahasa dan tradisi dan budaya, untuk mencapai target 2020 BIG sangat banyak membutuhkan tenaga ahli toponimi, untuk itu program penyiapan SDM toponimi oleh BIG melalui penguatan kelembagaan, kerjasama dengan berbagai peneyedia SDM toponimi sebagai mitra utama BIG dan dukungan regulasi pemerintah dalam menyiapkan budgetnya/anggarannya.
    Segera tiap perguruan tinggi; UI, UGM dll,untuk membuat lembaga Pusat Penelitian Toponimi, yang berfungsi teknis sebagai pelaksana diklat seperti sertifikasi perencana bekerjasama dengan Bapenas khusus Toponimi dan membuka peluang unsur sdm desa, kecamatan dan kabupaten hingga nasional Indonesia untuk mendukung dan memahami toponimi.

    Intisari dari kuliah umum berikut.
    1. Ada kebanggaan bahwa Alumni Geografi berkontribusi dan berkarya dalam pembangunan wilayah
    2. Peluang Pembuatan Peta Dasar dalam mendukung pembuatan peta Tematik sektoral dari sekala kecil hingga sekala besar dengan toponimi yang lengkap 2020.
    3. Peluang Pembuatan Gazetir (toponimi)
    4. Ada keinginan MoU Pembentukan lembaga Toponimi di Perguruan Tinggi atau setingkat Kementerian atau Badan
    5. Kesempatan magang Mahasiswa Geografi dan Alumnus Geografi (baru) untuk bekerja di BIG untuk mendapatkan pelatihan dan sertifikasi ahli geografi, ahli toponimi, ahli survey dll yang sangat diperlukan  sebelum dimulainya pasar tunggal ASEAN. Dan untuk membangun kawasan asean yang berdayasaing (link: MEA)

    Bagi Geografi UI ini merupakan tantangan yang sangat strategis yang ditawarkan oleh Bu Titik (alumni geografi FMIPA-UI angkatan 1978). Departemen geografi UI melalui Kadep, Kaprodi S1 dan S2, Ventura FMIPA-UI, Ventura UI bersama civitas akdemika geografi berencana menindaklanjuti tantangan tersebut. Semoga segera terwujud.

    tsup3 tsup1tsup2

    Dokumentasi Kuliah Umum Dra. Titiek Suparwati di Geografi FMIPA-UI (16 September 2016).

    gazetteer / gazetir/gasetir = a geographical index or dictionary/a book or list that is arranged in alphabetical order and gives information about places. (daftar atau list yang memuat semua nama rupabumi yang baku atau dibakukan lengkap dengan informasi penunjangnya.)

    25 Sep
    25 Sep
  •  SELAMAT DATANG MAHASISWA GEOGRAFI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM…

    30 Jul
    30 Jul
  • Selamat Kepada

     bbg1111

    Dr. Bambang Marhaendra Djaya

    Telah mempertahankan Disertasinya dalam Ilmu Pengetahuan Budaya (Arkeologi) Universitas Indonesia

    di depan Senat Guru Besar Universitas Indonesia pada Hari Kamis, 21 Juli 2016

    bbg11111111

    Promotor: Prof. Dr. Noerhadi Magetsari (emiritus). Ko Promotor  : Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto

    Ko Promotor 2 : Raldi Hendra Koestoer, Drs., M.Sc, Ph.D, APU

    Panitia Penguji: Prof. Dr. Adrianus L.G. Waworuntu, MA, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, Dr. Ermawati Marwoto, Dr. Ninny Soesanti Tedjowasono, M.Hum.  Dr. Ali Akbar.

    Dengan Judul Disertasi:

    Peran Serta Masyarakat Sekitar Situs Sebagai Modal Sosial dan Dampaknya Bagi Peningkatan

    Kesejahteraan Masyarakat 

    (Studi Kasus di Candi Penataran, Sawentar dan Simping)

    bbg1

    Pidato pengukuhan oleh Prof. Noerhadi Magetsari (Promotor)

    Assalammualaikum warochmatullohi wabarakokatuh

    Hadirin dan hadirat yang saya hormati.

    Pertama tama ijinkanlah atas nama Prof Prijono Tjiptoheriyanto dan saya sendiri menyampaikan selamat dan penghargaan atas keberhasilan Saudara Bambang Mahaendra Jaya dalam menyelesaikan penulisan disertasi serta kemudian berhasil mempertahankannya di hadapan panitia ujian pra maupun promosi. Atas dasar semua itu maka ia berhak menyandang gelar doktor.

    Hadirin dan hadirat yang saya hormati.

    Hakekat arkeologi yang bersifat interdisiplin membuka kesempatan bagi para ahli dari bidang ilmu lain melalui perspektif  bidang keahlian ilmu mereka untuk ikut serta dalam memperkaya pengembangan arkeologi sebagai ilmu. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya Allison Wylie dan Merrilee Salmon keduanya gurubesar filsafat mengkajinya pada tataran epistemologi, demikian pula Jane Keelley sebagai seorang ahli filsafat ilmu pengetahuan mengupasnya pada tataran methodologi. Departemen arkeologi melalui program doktornya mulai mencoba untuk mengikuti pola pengembangan ini, dengan memberi kesempatan kepada mereka yang berlatar belakang keahlian di luar arkeologi untuk mengikuti programnya. Dua orang pertama yang mengikuti percobaan ini adalah Sdr. Sumanto yang berlatar belakang antroplogi dan Saudara Bambang sendiri. Saudara Sumanto telah menyelesaikan studinya pada tahun akademik yang lalu sedangkan Sdr. Bambang dengan latar belakang bidang keilmuan geografi ekonomi sebagaimana yang kita saksikan sekarang mencapai gelar doktornya pada tahun akademik yang sedang berjalan ini. Kiranya bagi Sdr. Bambang keikutsertaannya dalam program ini tidaklah asing oleh karena bidang keahliannya sendiri telah bersifat interdisiplin. Berbeda dari ketiga ahli filsafat yang saya sebutkan tadi yang membatasi kajiannya  pada tataran teori, Dr. Bambang melengkapinya dengan segi praxisnya. Demikianlah melalui penelitian dan kemudian penulisan disertasi, dalam segi praxis ia mencoba untuk ikut merintis pengembangan sebuah kekhususan arkeologi mutakhir yaitu apa yang dikenal sebagai community archaeology.

    Hadirin dan hadirat yang saya hormati

    Arkeologi komunitas (communitiy archaeology) merupakan gerakan baru di antara para ahli arkeologi yang berusaha untuk membuat arkeologi lebih bersifat inklusif, di samping upaya meningkatkan akuntabilitas penggunaan dana masyarakat dalam membiayai penelitiannya. Adapun salah satu cara yang ditempuh adalah dengan membuka kesempatan kepada masyarakat pada umumnya untuk terlibat dalam kegiatan ilmiahnya. Cara pendekatan kepada masyarakat yang demikian inilah yang dewasa ini dikenal sebagai communitiy archaeology, serta kemudian berkembang menjadi sebuah kekhususan baru. Kekhususan ini yang pada awalnya diperkenalkan dan kemudian diterapkan oleh para ahli arkeologi di Selandia Baru dan Australia, melalui Inggris dewasa ini telah mendunia. Walaupun demikian, keterlibatan masyarakat itu pada umumnya masih terbatas pada kegiatan ekskavasi. Di Indonesia community archaeology ini baru mulai menarik perhatian Dr. Daud Tanudirdjo dari Departemen Arkeologi Universitas Gadjah Mada yang memperkenalkannya sebagai sebuah  mata kuliah pada jenjang sarjana. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa disertasi Dr. Bambang yang telah membahasnya pada jenjang doktor menjadikan Departemen Arkeologi kita tidaklah terlalu ketinggalan.

    Dengan latar belakang keilmuannya di bidang ekonomi, di bawah bimbingan Prof. Prijono Tjiptoheriyanto, ia berhasil menghitung potensi ekonomi sebuah situs arkeologi beserta masyarakat sekitar secara kuantutatif sehingga dapat dikonversi menjadi aset. Sebagaimana diketahui masyarakat sekitar Candi Penataran yang dijadikannya sebagai  studi kasus, dewasa ini tengah mengembangkan ekonomi kreatif. Dengan demikian maka seandainya arkeologi komunitas versi Dr. Bambang diterapkan, maka bangunan cagar budaya yang sekarang ini masih merupakan cost centre, tidak saja dapat mandiri akan tetapi dapat pula dikembangkan menjadi sebuah profit centre. Tambahan pula dengan sedang dikembangkannya ekonomi kreatif melalui pendirian sebuah Badan tersendiri, digalakkannya pariwisata dengan memperbanyak tujuan wisata, serta pengelolaan  Cagar Budaya di bawah sebuah Otoritas yang mandiri, maka pengembangan arkeologi komunitas benar benar mutlak dikembangkan  menjadi sebuah langkah yang sangat strategis. Dengan lain perkataan, model arkeologi komunitas Dr. Bambang, lebih maju dibandingkan dengan penerapan community archaeology pada umumnya, yang baru mampu memberikan keterlibatan masyarakat sebatas ekskavasi.

    Hadirin dan hadirat yang saya hormati

    Selanjutnya dengan latar belakang keilmuan di bidang geografi, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kecuali Candi Borobudur belum ada situs arkeologi lain yang masuk dalam tata ruang strategi nasional. Ia menemukan kenyataan bahwa wilayah situs arkeologi  belum tercatat sebagai wilayah budaya karena berada dalam wilayah pengembangan sehingga menjadi rentan untuk terintegrasi dalam rencana  pembangunan industri atau perumahan yang kini sedang marak dilakukan. Tambahan pula status situs arkeologi atau bangunan cagar budaya yang dinilai sebagai cost centre, pada gilirannya juga dianggap menggrogoti anggaran belanja negara ataupun anggaran belanja daerah, sehingga pada gilirannya pemanfaatannya pun diubah dari wilayah cagar budaya menjadi  lahan yang berdaya guna untuk menambah anggaran. Fenomena yang demikian ini diperparah oleh sikap  masyarakat sendiri. Oleh karena  tidak pernah dilibatkan, sebagaimana yang terjadi terhadap situs Trowulan misalnya, mereka merasa tidak berkepentingan sehingga justru menolak pada waktu situs arkeologi ditetapkan sebagai cagar budaya. Dalam disertasi ini Dr. Bambang mencoba memberikan jalan keluar bagaimana mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi di bidang penataan tata ruang ini dengan kiat bagaimana membuat situs arkeologi dapat masuk ke dalam tata ruang strategi nasional.

    Hadirin dan hadirat yang saya hormati

    Selanjutnya kepada para penguji, terutama kepada Prof Prijono Tjiptoherijanto dan Prof Raldi Koestoer yang telah menyoroti disertasi ini dari luar bidang arkeologi, saya sampaikan terima kasih atas berbagai pertanyaan dan kritik yang telah disampaikan sehingga dapat kiranya menambal celah-celah kelemahan yang semula tidak terlihat oleh saya selaku promotor.

    Kepada Dr. Bambang Mahaendra Jaya, ungkapan klise mengatakan bahwa disertasi bukanlah sebuah karya terakhir seorang ilmuwan melainkan sebuah karya awalnya. Terlebih lagi bagi Saudara yang telah memelopori upaya pengembangan arkeologi komunitas di Indonesia, sehingga atas dasar itu Saudara dituntut untuk bertanggung jawab, tidak saja terhadap upaya pengembangannya secara akademis akan tetapi juga dari segi praxis atau pelaksanaannya di lapangan karena apabila arkeologi komunitas ini tidak segera dimulai maka saya khawatir arkeologi akan tertelan oleh laju pembangunan yang sedang berlangsung dengan sangat intensif. Di samping itu Saudara diharapkan pula untuk dapat menjadi ahli arkeologi yang mampu menyampaikan secara akademik bagaimana agar situs arkeologi dapat menjadi sebuah wilayah budaya tersendiri dalam tata ruang strategi nasional.

    Akhirul kata saya doakan segenap hadirin dengan menyampaikan billahi taufik wal hidayah wasalam mualaikum warochmatullohi wa barokatuh.

    Jakarta, 21 Juli2016

    Profile:

    Dr. Bambang Marhaendra Djaya

    S1 Geografi FMIPA UI, S2 Ekonomi UI, S3 Arkeologi UI

    bbg111111 bbg11bbg1111111

    Supporter: taqy, Dr. Atiek, Iin, Dr. Supri, Pipin

    23 Jul
    23 Jul
  • Agenda Geografi UI 2016: 1. Tim Akreditasi BAN S1 dengan…

    27 Jun
    27 Jun
  • 14 Jun
    14 Jun
Goto :