g

Alumni Geografi

Komunitas Alumni Geografi berkomunikasi melalui milist: spatial-net@yahoogroups.com FORKOM GEOGRAFI UI http://www.facebook.com/group.php?gid=89031217633&v=info Alumni Geo’90 http://www.facebook.com/group.php?gid=51148548499&v=wall   Lounching  www.bukpeta.com di Sumatera Barat More »

c

Prodi S2

  PROGRAM MAGISTER ILMU GEOGRAFI Penyelenggaraan Pendidikan pada Program Magister Ilmu Geografi bertujuan untuk menghasilkan lulusan S2 (master degree) yang More »

b

Prodi S1

Geografi adalah ilmu yang mempelajari segala aktifitas manusia dan alam serta interaksi diantara keduanya melalui perspektif ruang hingga terbentuk pola More »

e

Tentang Kami

Geografi adalah ilmu yang mempelajari segala aktifitas manusia dan alam serta interaksi diantara keduanya melalui perspektif ruang hingga terbentuk pola More »

Meeting & Tour Garut, Geografi-UI 2014

Meeting and Tour Garut.  Geografi 2014

27 – 29 Januari 2014

               

 

  

Selamat DR. Chotib

ATAS NAMA PIMPINAN DAN CIVITAS AKADEMIKA DEPARTEMEN GEOGRAFI FMIPA UI
MENGUCAPKAN SELAMAT KEPADA

DR. Chotib

 “Dampak  Mobilitas Ulang Alik terhadap Kohesi Sosial para Pekerja di Komunitas Depok”
Departemen Sosiologi FISIP UI, 10 Januari 2014
 
A Tribute to Dr Chotib
Terimakasih kepada Dr. Chotib yang telah  berkenaan  memberikan saya  ringkasan  disertasi berjudul:  “Dampak  Mobilitas Ulang Alik terhadap Kohesi Sosial para Pekerja di Komunitas Depok”,  yang telah dipertahankan di Departemen Sosiologi FISIP UI, 10 Januari 2014.
Dari judulnya saja kita sudah dapat menduga bahwa  disertasi  Dr. Chotib berkenaan dengan urban sociology.  Bagi saya yang berlatar akademis (economic) geography, regional science, atau regional economics, kata “mobilitas” sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing sama sekali.  Struktur ekologis ruang kota oleh Burgess sebenarnya bertolak dari teori sosiologi  yang kemudian banyak dijadikan referensi di analisis geografi urban.  Selain Burgess dan Lefebvre tentang lanskap sosial urban, secara khusus tentang mobilitas, referensi yang banyak diambil dari sosiologi adalah Sheller dan John Urry (2006). Urry (2008) bahkan mengemukakan perlunya merubah sudut pandang mobilitas menuju paradigma baru (new mobility paradigm), tidak semata pada perspektif social mobility yang cenderung statis.

Paradigma baru tentang mobilitas seperti yang dikemukakan Urry  (2008) sebenarnya diinspirasi dari pandangan ahli geografi yang concerndengan aspek spasial, dimana mobilitas sendiri dapat membentuk apa yang disebut sebagai geographical mobility:

Most social science has not seen distance as a problem or even as particularly interesting (except for transport studies and transport geography).

Hal ini menjadi unsur penting dalam menjelaskan. Dalam konteks urban Indonesia khususnya Jakarta,  untuk menjelaskan  fenomena mobilitas dalam geografi transportasi, kita mungkin dapat memberikan contoh, mengapa etnis tertentu tidak bersedia naik metromini atau bus kota, dan mengapa etnis tertentu tersebut cenderung mengunjungi mall tertentu.

Paradigman baru mobilitas juga mulai memberikan perhatian terhadap  tentang  perilaku strata socsal tertentu dalam mengambil keputusan untuk mengunjugi lokasi pariwisata tertentu dan moda transportasi  yang digunakan.

Dr Chotib tampaknya mengambil peluang untuk mengembangkan analisis tentang isu mobilitas khususnya  terhadap kohesi sosial, sebagai konsekuensi berada di institutusi akademik sosiologi, terlepas dari karya Urry luput dari  perhatian sebagai bahan referensi teoretis.

Sebagaimana disertasi Dr Chotib, pendekatan sosiologi lebih melihat mobilitas sebagai sasaran antara untuk menjelaskan pengaruhnya terhadap kohesi sosial. Mobilitas karyawan dari Depok yang bekerja di pusat kegiatan ekonomi Jakarta telah menghabiskan banyak waktu perjalanan sehingga ketika pulang ke rumah para commuter tersebut tak lagi punya waktu bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, landasan teori sosilogi memang lebih difokuskan pada perubahan social ataupun kohesi sosial, sementara analisis tentang mobilitas adalah sasaran antara.

Ketika kita berbicara tentang  mobilitas, kita sesungguhnya berbicara tentang pergerakan (movement).  Kata pergerakan sendiri erat kaitannya “flow” yang juga erat  kaitannya dengan aspek spasial dari geografi pariwisata, geografi transportasi,  geografi urban, dan sebagainya. Bahkan  pada pertemuan ilmiah Association of American Geographer (AAG) 2008, aspek mobilitas dibahas secara khusus bagaimana kaitannya dengan aspek geografi transportasi. Pertemuan  juga mengundang para sosiolog:

We invited geographers and sociologists associated with the mobilities agenda as well as transport geographers to think about the apparent schism, and existing and potential synergies between their areas of  approaches to scholarly inquiry (lihat  Shaw, J. dan M. Hesse (2010). Boundary Crossings transport  geography and the ‘new’ mobilities. Transaction  Institute of  British Geographers  35: 305–312).   Pertemuan tersebut mencoba menjawab pertanyaan:

To what extent are transport geography and mobilities compatible? How far do they already coincide?How far is it desirable, practical and/or profitable for them to coincide? What are potential ways forward in terms of theoretical and methodological development and empirical data collection.
Harapan kita adalah agar Dr Chotib dapat terus memberikan sumbangan pemikirannya yang akan sangat berguna bagi  lembaga tempatnya bekerja (Lembaga Demografi FEUI),  tetapi juga dalam rangka memperkokoh pijakan teori khususnya  dalam teori migrasi dan mobilitas yang menjadi perhatian utama  ilmu  geografi ketimbang tentang fertilitas, ataupun indikator makro demografi standar lainnya.
Kajian geografi tentang mobilitas di sebuah kota di Swiss menunjukkan berbagai pola mobilitas (geographical mobility) yang berbeda menurut strata sosial akibat gentrifikasi. Pertanyaan menarik dari kajian tersebut adalah: who will be locational winners in the city and who will be locational losers? Apa pengaruhnya terhadap cost yang dikeluarkan untuk transportasi, penghematan energy, emisi, perubahan iklim, dan sebagainya (lihat Ohnmacht;  H. Maksim; dan M. Maxbergman eds (2009). Mobilities and Inequality. Ashgate Publisher.
Dengan latar belakang S1 di bidang geografi, dan penguasaan yang mumpuni dalam model kuantitatif, serta  didukung dengan teori sosiologi, saya kira Dr Chotib diharapkan dapat mengembangkan ide-ide riset cross boundary: sosiologi, geografi dan ekonomi, khususnya tentang migrasi dandemographic-economic model yang dibutuhkan dalam riset dan pembelajaran ilmu geografi.
Salam,
Nuzul Achjar
Chotib selayang pandang

Program Beasiswa Taiwan 2014

Program Beasiswa Taiwan 2014

Taipei Economic and Trade Office, Jakarta, Indonesia 駐印尼台北經濟貿易代表處

http://www.roc-taiwan.org/ID/ct.asp?xItem=464880&ctNode=4827&mp=292

S2 Geografi Universitas Indonesia Mendapat Akreditasi (A) 2013

SELAMAT

ATAS KEBERHASILAN PROGRAM MAGISTER GEOGRAFI FMIPA

UNIVERSITAS INDONESIA

MENDAPATKAN AKREDITASI  A

(Januari,2014)

 

lampiran http://ban-pt.kemdiknas.go.id/hasil-pencarian.php


Powered by WordPress | Designed by: suv | Thanks to toyota suv, infiniti suv and lexus suv